Renungan kasih sayang dan jasa orang tua

A'uudzubillah hissami'ul 'alim himinash syaitonirrojiim bismillaahirrohmaanirrohiim alhamdulillahi robbil 'alamin wa bihinasta'in wassalatu wassalamu 'ala rasulika wanabiika Muhammadin sallallahu alayhi wa'ala alihi wasahbihi wassalam
Yaa munzilal kitab.. Ya Allah
Wa Ya mujriassahaab.. Ya Allah
Wa Ya hazimal Ahzab.. Ya Allah
Wa Ya munzila rahmah.. Ya Allah
Isma du'a ana.. Ya Allah.
Innaka antas sami'ul 'alim.. Ya Allah

Ya Allahu ya Rahman ya Rahim

Ampunkanlah seorang wanita yang sudah kami tumpangi rahimnya selama 9 bulan 10 hari lamanya. Wanita itu telah melahirkan kami, hingga koyak isinya ya Allah.. luka kulitnya ya Allah.. Tumpah darahnya ya Allah
Bercucuran air matanya menahan sakit dan derita. Itulah Ibu kami ya Allah.

Demi keberkatan AlQuran yang kami baca, ampunkanlah Ibu kami ya Allah.

Ampunkan Ibu yang tak pernah kenyang makan dan minumnya demi mengenyangkan kami ya Allah.

Ampunkanlah Ibu yang tak pernah nyenyak tidurnya demi menidurkan kami ya Allah.

Ampunkan Ibu yang tak pernah memberitahu kami tentang kesehatannya karena menjaga kebajikan kami ya Allah.

Ampunkan Ibu yang sungguh mulia dirinya, yang sudi nembasuh, mencuci najis dan kotoran kami, ya Allah.
Tidak pernah pula ia mengungkit segala apa pun pemberiannya kepada kami ya Allah.

Ampunkan Ibu yang tangan lembutnya selalu mengusap kepala dan wajah kami. Kini wajahnya nampak urat-urat tua menghias dirinya ya Allah.

Ya Allah, ampunkanlah juga seorang lelaki yang dibin-bintikan nama kami dengan namanya. Itulah Ayah kami ya Allah.
Manusia yang mengajarkan kami berucap syahadat.

Dengannya kami kenal ketegasan di dunia ini. Kami kenal peraturan tentang hidup ini dan kami kenal dengan Engkau ya Allah. Kami pun kenal dengan NabiMu utusanMu ya Allah. Kami kenal akidah yang sebenarnya yang mesti kami pegang hingga akhir hayat kami ya Allah.

Ya Allah, ampunkanlah Ayah yang kami tidak selalu memahami dirinya. Ampunkanlah Ayah yang air matanya hanya dikeluarkan untukMu ya Allah. Resah gelisahnya diceritakan hanya padaMu dan rahasianya hanya Engkau yang tahu.

Ya Allah, ampunkan Ayah yang bertanya kabar kami hanya melalui lisan Ibu. Ayah yang memberikan kami uang saku melalui lembutnya tangan Ibu. Yang selalu memperhatikan kami, tertawa kecil dab tersenyum lebar hanya dari jauh. Apabila didekati, wajahnya pun berubah tegas mendidik kami.

Hingga hari ini, apabila kami telah menjadi Ayah dan Ibu. Kami baru mengenali apa itu Ayah dan Ibu yang sebenarnya, ya Allah.

Ya Allah, seandainya mereka masih ada. Engkau sehatkan mereka, panjangkanlah umur mereka dalam kebaikan dan keberkahan. Tambahkan pada mereka ketabahan, keimanan, dan ketaqwaan.. Yaa arhamarrahimin.

Ketika saatnya Engkau ambil mereka dari kami, jangan Engkau sakiti mereka, ya Allah. Jangan sakarat itu membebankan mereka seperti mereka melembut kami ya Allah. Lancar kan kan urusan nya dalam hal itu, ya Allah. Jika mereka telah pergi bertemu denganMu, lapangkanlah kuburan mereka ya Allah. Pindahkan mereka dari kegelapan liang lahat ke dalam surgaMu yang luasnya tidak terkira. Karuniakanlah pada mereka nikmat yang abadi disana ya Allah.

Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul 'alim.
Wa tub alayna ya maulana innaka antattawabur rahim.
Wasalallahu 'alanabina Muhammadin wa 'ala alihi wassahbihi ajma'in.
Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul 'alim.
Wa tub alayna ya maulana innaka antattawabur rahim.
Wasalallahu 'alanabina Muhammadin wa 'ala alihi wassahbihi ajma'in.
Walhamdulillahi rabbil 'alamiin.

Inilah manfaat berpuasa

Risalah Ramadhan: Puasa merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan oleh syariat Islam, mulai dari puasa sunnah hingga puasa wajib, seperti puasa di bulan Ramadhan. Dan di bulan Ramadhan ini, umat Islam bersama-sama memacu segala potensinya bertaqarrub kepada Allah untuk mencapai derajat muttaqin (orang-orang yang bertaqwa).
Terkait dengan puasa sendiri, sangat terkait dengan kesehatan orang yang berpuasa, hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam :
صُومُوا تصحوا
“Puasalah kalian niscaya kalian akan sehat”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu As-Sunniy, dan Abu Nu’aim yang mencantumkannya didalam Ath-Thibbun Nabawi (Pengobatan Metode Nabi) dari Abu Hurairah, serta Ath-Thabaniy didalam Al-Awsath. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa hadits ini sanadnya dloif (lemah). Hadits ini juga dicantumkan didalam kitab monumental Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yaitu Ihya’ Ulumuddin dan ketika Imam Al-‘Iraqi mentakhrijnya, beliau mengatakan bahwa sanadnya dlaif (lemah). 
Akan tetapi, bagaimana dari sisi matan hadits (isi hadits) ?. Tentu saja tidak bisa diabaikan begitu saja, sebab memang banyak hikmah dibalik puasa itu sendiri. Akal sehat kita pun menyetujui adanya hikmah ini. Namun, hadits ini memang bukanlah dalil bagi kita untuk menetapkan hokum puasa dan tidak pernah ada yang menggunakannya untuk menetapkan hokum-hukum terkait puasa itu sendiri, sebab ketetapan hokum puasa ada dalil-dalilnya sendiri. Akan tetapi dalil-dalil perintah berpuasa mendukung hadits ini. 
Oleh karena itu, dari sisi matan (isi hadits) sebenarnya tidak ada yang salah dengan hadits ini. Jadi tidak perlu terlalu alergi dengan hadits-hadits yang sanadnya lemah semacam ini. Sebab, hadits seperti ini tetap bisa digunakan dan  disampaikan, khususnya sebagai motivasi bagi umat Islam untuk berpuasa, apalagi untuk anak-anak yang baru belajar puasa. Oleh karena itu, ulama pun begitu bijak memperlakukan hadits dloif, bahkan ada juga yang menjadikannya sebagai dasar hokum. Imam Nawawi rahimahullah didalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa,
“Para ulama dari kalangan Muhadditsin (para ulama dibidang hadits) dan Fuqaha’ (para ulama bidang fiqh) dan para ulama lainnya mengatakan : boleh bahkan dianjurkan beramal didalam hal fadlailul a’mal, targhib (penyemangat/memotivasi) dan tarhib (ancaman) dengan hadits-hadits dloif (lemah), selama tidak palsu (maudlu)”
Ditinjau dari segi kesehatan sendiri, puasa tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan jasad (jasmani) namun juga ruhaniyah. Zainuddin Al-Munawi didalam kitabnya Al-Taisir bisyarhi al-Jami’ al-Shaghir mengatakan,
“(Puasalah kalian niscaya kalian akan sehat) karena sesungguhnya puasa merupakan nutrisi bagi qalbu (hati) sebagaimana makanan bernutrisi bagi jisim (tubuh), dan padanya mengandung unsure kesehatan bagi badan dan ‘aqal”
Demikian juga didalam Faidlul Qadir,
“(Puasalah kalian niscaya kalian akan sehat), Al-Haraliy berkata : didalam hadits ini terhadap isyarat bahwa orang yang berpuasa akan mendapat sesuatu berupa kebaikan pada jasmaninya, kesehatan dan rizqinya tercukupi, disamping besarnya pahala dalam urusan akhirat, padanya juga mengandung unsure kesehatan bagi badan dan aqal sehingga mudah untuk merenung (tadabbur), memahami serta mengalahkan hawa nafsu hingga sampai pada derajat orang-orang beriman (mukminin) dan meningkat pada derajat orang yang muhsin (muhsiniin)”
Adapun didalam dunia kesehatan atau perspektif medis modern sendiri, telah banyak tulisan maupun penelitian yang memaparkan mengenai manfaat puasa bagian kesehatan, diantaranya adalah menjaga keseimbangan anabolisme dan katabolisme, puasa tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah, puasa tidak berpengaruh pada sel darah manusia, puasa ternyata juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerja sel, dan lain sebagainya. 
Kesimpulannya adalah sebagaimana yang telah termaktub didalam “Puasalah kalian niscaya kalian akan sehat”, yakni puasa itu menyehatkan, baik sehat dari sisi jasmani maupun ruhani

Pentingnya dakwah dalam kehidupan

Dunia dakwah adalah dunia cahaya dan lautan cahaya yang menerangi jiwa raga dan semesta dengan petunjuk risalah Rasulillah SAW. Gebyar dan gemerlapnya sebuah kota jika tidak dibarengi dengan petunjuk Risalah Rasulullah tidak akan membangun  moral dan kemanusiaan.
Maka risalah Rasulullah sebagi cahaya harus senantiasa di hadirkan seirama dengan status kemulyaan umat Rasulullah SAW sebagai (khoiro ummatin ukhrijat linnasi) umat terbaik yang dihadirkan oleh Allah ke muka bumi ini. Mulya karena mambawa cahaya mengantar cahaya kepada yang membutuhkanya. Dakwah dalam makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan dan  menjauhkan diri dan orang lain dari kemungkaran. Semua dari kita yang merasa umat Rasulullah  SAW harus bias mengambil bagian dari tugas dakwah ini.. Siapapun kita, yang kaya, yang miskin, yang pandai dan yang bodoh selagi umat Rasulullah SAW ia harus ikut dalam program mengajak kepada kebaikan dan menjauhi kemungkaran.

PRINSIP DAKWAH
1. Membangun keikhlasan kepada Allah dengan menitik beratkan kepada : A. Memahami dakwah sebagai jihad yang menuntut perjuangan dengan harta dan jiwa (biamwalihim waanfusihim). B. Berusaha untuk melibatkan diri sendiri dalam pengorbanan jiwa, raga dan harta sebelum orang lain. C.  Berbanggalah jika ada orang lain yang telah berhasil dalam perjuaangan yang serupa dengan yang anda emban. D. Bantulah orang yang seperjuangan dengan anda agar berhasil, baik dengan doa, materi jika ada atau hanya sekedar ikut mempromosikan majelis, program dan perjuanganya.
2. Jangan  menunggu kaya dan pintar. Suatu ketertinggalan jika mau beramar ma'ruf nahi mungkar menunggu kaya atau pintar. Akan tetapi keinsyafan akan tugas inilah yang akan menghantar seseorang untuk bersemangat tinggi dalam berdakwah dan beramar ma'ruf nahi mungkar. Jika anda orang berilmu, lakukanlah tugas dakwah semampu anda tanpa menunda waktu sesaatpun. .Jika kemampuan Anda hanya dakwah kepada tetangga karena anda tidak mepunyai kendaraan, maka lakukanlah sesuai kemampuan anda sejauh kaki mampu melangkah. dan disaat anda di karuniai sepeda pergilah ketempat yang  lebih jauh dan begitu seterusnya.

Jika Anda orang kaya tetapi anda tidak berilmu, ambilah bagian dakwah anda sesuai dengan kemampuan anda. Anda memang tidak boleh berceramah atau memberi fatwa karena anda tidak berilmu. Akan tetapi anda bisa berdakwah dengan mengumpulkan orang sebanyak-banyaknya dengan harta anda dan setelah itu anda mendatangkan orang yang berilmu untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada orang yang anda kumpulkan. Jika anda tergolong orang yang tidak berilmu dan tidak berharta, itu bukan berarti anda tidak bisa menjadi juru dakwah dan kelompok umat terbaik. Anda bisa dengan tenaga anda datang kesana kemari mengajak orang lain agar memasuki Majelis ilmu para ulama di sekitar anda atau anda menjadi tukang sapu atau penjaga sebuah lembaga dakwah dan majlis taklim. Sungguh jika anda tulus dengan kinerja anda itu, anda bisa duduk bersama para ulama di akhirat nanti biarpun anda adalah orang yang tidak berilmu.
PENYAKIT DALAM MEDIA DAKWAH
1. Tawaduk bukan pada tempatnya.  Artinya Ada seseorang yang telah memiliki bekal ilmu. Akan tetapi ia tidak segera bangkit ambil bagian dalam dakwah dengan alasan belum waktunya, masih ada yang lainnya, gak enak dengan yang sepuh dan sebagainya. Padahal urusan mencari kemulyaan seseorang harus berlomba dan merasa kalau dirinya adalah yang paling butuh kepada kebaikan tersebut.

Di jelaskan oleh para Ulama (aliitsaru fittaqorrubi makruhun) mendahulukan orang lain dalam urusan ibadah adalah makruh. Dalam kebaikan seseorang harus fastabiqul khoirot, berlomba dalam kebaikan dengan senantiasa memperhatikan tatakrama.
2. Tidak senang dengan adanya orang yang hendak muncul di dalam dunia dakwah. Ini adalah kedengkian yang amat berbahaya, tidak ada dengki yang lebih mengerikan dan membahayakan melebihi dari dengkinya orang yang terjun di dunia dakwah. Sehingga setiap kali ada orang yang hendak muncul di medan dakwah ini, orang–orang dengki itu berusaha menghalangi baik dengan omongan atau tingkah laku. 
Dua hal Inilah yang menjadikan para calon-calon pejuang baru merasa ragu atau bahkan takut untuk tampil. sehingga semakin hari media dakwah semakin jauh dari mereka. Dari sinilah kenapa sering kita ketemukan orang menuntut ilmu agama bertahun-tahun ternyata setelah pulang kegiatanya sangat jauh dari media dakwah. Wallahu a'lam bishshowab. (Al Ustadz Yahya Zainul Ma'arif Hafidzahullah)

Cara menasehatkan orang tua ajaran rasulullah

Sayidina Hasan dan Sayidina Husain suatu ketika melihat seseorang sedang berwudhu. Sayangnya, cara wudhu orang tersebut tidak sempurna, tidak sesuai dengan tuntunan agama.
 
Kedua cucu baginda Nabi SAW yang tengah beranjak remaja itu pun berpikir tentang cara mengoreksinya secara bijak. Mereka tak ingin menyinggung dan berharap pesan nasehatnya dapat diterima dengan lapang dada.

Salah seorang dari keduanya akhirnya mengatakan kepada orang tersebut, ”Wahai paman, saya dan saudara saya beda pendapat mengenai siapa di antara kami yang paling benar dan bagus cara wudhunya. Kami minta tolong paman untuk menilai kami, siapa yang terbaik wudhunya!”

Orang itu setuju. Hasan dan Husain lantas berwudhu sementara ia memperhatikan satu persatu dengan seksama, disertai rasa kagum akan cara wudhu dua anak dimaksud. Saat itu, ia beruntung karena mendapatkan pelajaran praktik dari kedua anak itu. Pelan-pelan kesadarannya tumbuh bahwa ia telah melakukan kesalahan.
Setelah Hasan dan Husain selesai “lomba berwudhu” tiba saatnya untuk menentukan pemenangnya. ”Wudhu kalian berdua sangat istimewa,” kata orang itu sembari tersenyum seolah mengucapkan terima kasih.

Tidak ada pemenangnya. Memang tujuannya bukan untuk mencari pemenang.

Apapun situasinya, nasihat-menasihati merupakan prinsip esensial dalam Agama. Sayangnya prinsip ini semakin luntur, karena banyak orang yang “berat” menasihati orang lain dan banyak pula orang yang merasa “berat” untuk menerima nasihat.

Tampaknya, dibutuhkan kiat yang tepat untuk menyampaikan nasihat, dan tidak harus selalu diungkapkan secara tersurat, seperti yang dilakukan dua pemuda ahli surga tadi. Formatnya barangkali tidak menasihati walaupun secara tersirat kandungannya adalah nasihat.

Saya teringat saat belajar di salah satu madrasah ibtidaiyah di Jakarta. Saat itu saya belum mengerti kenapa setiap akan pulang sekolah guru-guru kami meminta semua siswa menutup pelajaran dengan membaca surat “Al-Ashr”. Rupanya para sahabat Rasul SAW, tabiin dan generasi sesudahnya mempunyai kebiasaan mengakhiri majelis atau pertemuan mereka dengan membaca surat tersebut. Surat al-Ashr yang berisikan deklarasi kerugian manusia, kecuali mereka yang beriman, melakukan amal saleh, saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan saling nasihat-menasihati dalam kesabaran. (Amiruddin Thamrin-Mustasyar PCINU Suriah/nuon)

Kebanggaan sang iblis

Teringat sebuah kisah yang di jabarkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran tentang sebab terkutuknya Iblis. Yaitu disaat iblis tidak mematuhi perintah Allah SWT untuk bersujud. Maka bersama itu juga iblis menjadi makhluk pertama yang terkutuk.  Ada yang perlu dicermati dibalik penolakan iblis untuk sujud, yang karenanya iblis menjadi terkutuk.
Yaitu karena iblis merasa lebih baik dari Nabi Adam AS dan berkata “Ana Khoirun Minhu” (Aku lebih baik dari Adam). Disaat iblis menojolkan ke-AKU-anya itulah awal bencana untuk Iblis.

Bisa kita membuat suatu gambaran akan sebuah cara menjalani hidup iblis yang salah yang terbaca pada masa kehidupan Nabi Adam dengan iblis. Yaitu cara hidup yang mengikuti faham AKU.

Faham AKU adalah faham iblis yang kemuliaan Islam sangat menentangnya. Faham AKU adalah faham kesombongan. Dan inilah yang pernah di isyaratkan Nabi Muhammad SAW bahwa yang menganggap dirinya bersih adalah yang terjerumus dalam jurang kehinaan dan tidak ada yang bisa mengangkatnya kecuali melawan hawa nafsunya yang senang membanggakan diri.

Saat ini kita harus lebih banyak berdoa untuk diri kita sendiri dan saudara-saudara kita yang diam-diam telah menganut fahan AKU ini. Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dan mereka dari terjerumus dalam kehinaan faham AKU ini. Karena saat ini kita sungguh dihadapkan pada suatu suasana yang telah menyuburkan faham AKU ini.

Yang telah di ajarkan Islam, jika ada pengangkatan pemimpin atau orang-orang yang akan mewakili kaum muslimin dalam sebuah tatanan atau tugas besar, yang ada dalam Islam adalah Tazkiyah (rekomendasi) yang di berikan kepada seorang calon pemimpin dan wakil rakyat dari kaum muslimin yang mempunyai wawasan agama dan ketaqwaan.

Artinya penilain baik dan tidaknya seorang calon pemimpin dan wakil rakyat adalah di tetuntukan oleh khalayak yang beriman dan mempunyai wawasan tentang tugas seorang pemimpin dan wakil rakyat. Inilah hal terpenting yang membedakan antara politik Islam dan bukan Islam. Di dalam Islam ada Syuuro yang sering diterjemahkan oleh sebagian orang dengan demokrasi. Padahal sesungguhnya sangat berbeda antara demokrasi dengan Syuuro. Islam tidak mengenal demokrasi karena demokrasi tidak akan menghantarkan kepada pemilihan pemimpin yang benar. Syuroo dalam memilih pemimpin adalah memilih pemimpin oleh orang-orang yang mampu mencemati, memilih, mempelajari dan memahami tugas pemimpin. Sedangkan demokrasi adalah memilih pemimpin oleh semua orang yang mampu berfikir cerdas ataupun yang tidak mampu termasuk orang pikun dan lemah akalpun sama suaranya dengan profesor yang soleh. Barangkali andapun pernah melihat di sebuah pesta demokrasi seorang kakek tua, tuli, kabur penglihatan, sering pikun dan tidak kenal calon A dan calon B harus masuk TPS memilih seorang pemimpin.

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah bersabda ” Janganlah engkau berikan kepemimpinan kepada orang yang memintanya darimu”. Begitu juga kisah Sayyidina Umar bin Khottob yang ingin mengangkat seorang gubernur, beliau minta kepada tokoh-tokoh yang ada untuk merekomendasikan orang-orang yang layak menjadi gubernur. Dan disaat ada orang yang mengajukan satu orang, sayyidina Umar bertanya “ Apa alasanmu memberi rekomendasi terhadap orang itu? Dijawab,” kami saksikan ia sangat rajin di masjid”. Kemudian sayyidina Umar bertanya “ apakah engkau pernah berjual beli dan pinjam meminjam denganya? ” Di jawab “belum ”. Kata sayyidina Umar,” rekomendasimu tidak di anggap, sebab pemimpin dan wakil rakyat harus sudah teruji kejujuranya kepada Allah dan kejujurannya kepada sesama, belum cukup untuk mengangkat seorang pemimpin yang hanya terlihat baik di masjid saja, begitu juga yang tidak kenal masjid tidaklah pantas menjadi pemimpin dan wakil rakyat”.

Riwayat yang kita dengar dari Rasulullah dan Sayyida Umar bin Khottob adalah sebuah pendidikan bagi kita disaat memilih pemimpin dan wakil rakyat. Sekaligus untuk menjauhkan para calon pemimpin dan wakil rakyat dari faham AKU yang menjadikan seorang hamba di kutuk dan di murkai oleh Allah SWT.

Saat inipun kita harus tanggap dan cerdas melihat disekitar kita, begitu banyaknya propaganda faham AKU memenuhi jalan-jalan. Kita sering dikejutkan oleh gambar orang yang tidak pernah kita kenal tampil di jalan-jalan dan mengatakan beragam ungkapan yang menunjukkan bahwa faham AKU nya iblis telah di anut oleh bangsa manusia. Kami tidak mengatakan bahwa mereka tidak layak dipilih akan tetapi kami hanya mencermati bahwa cara memilih calon pemimpin dan wakil rakyat yang benar, bukanlah dengan cara menyuburkan faham AKUnya iblis. Dan penganut faham AKU tidaklah pantas untuk dipilih. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari faham AKU nya sang iblis ini.

Wallahu  a’lam bissawab.
Ustadz Yahya Zainul Ma'arif (Buya Yahya)

Manfaat menyayangi anak kecil

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad SAW.

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

“Bukan termasuk dari golongan kami orang yg tak menyayangi anak kecil dan  tak menghormati orang tua (orang dewasa).” (HR. Hadits Tirmidzi No.1843)

Selain mendapat pengakuan sebagai umat dari Nabi Muhammad, juga akan dilebur dosa-dosanya walaupun itu besar.

Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya, Qâm‘uith Tughyân halaman 18 menjelaskan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhah menceritakan, bahwa ada seorang tamu datang kepada bagina Nabi Muhammad untuk melaporkan bahwa ia telah melakukan perbuatan maksiat, dan meminta kepada Nabi agar memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa tamu tersebut.

Sebelum permintaan itu dipenuhi, Rasulullah pun bertanya kepada si tamu tersebut, “maksiat apa yang telah kamu lakukan?

“Saya malu mengungkapkan perbuatan masiat tersebut, Ya Rasulullah SAW,” Jawab si Tamu.

Kemudian Nabi mendesak, “Kenapa kau harus malu menceritakan di depan saya tentang dosa-dosa yang telah kamu perbuat, sedangkan kepada Allah swt. yang selalu memantaumu tidak malu?

Setelah itu Rasulullah meminta kepada si tamu untuk segera pergi. “Pergilah, sebelum api neraka datang ke sini karena ulah dosa-dosamu!”

Akhirnya si tamu tersebut pergi sambil menangis dengan perasaan sedih bercampur kecewa.

Tidak lama kemudian, Malaikat Jibril datang dan menenggur Nabi, “Ya Muhammad janganlah membuat si tamu yang melakukan maksiat merasa sedih dan putus asa, karena si tamu sudah membayar kafarat (denda) atas dosanya, walaupun dosa tersebut besar”.

Nabi Muhammad pun bertaya, “Apa kafaratnya?

“Kafaratnya adalah anak kecil. Ketika tamu yang datang tadi tiba di rumahnya, tiba-tiba ada anak kecil mencegatnya dan meminta sesuatu yang bisa dimakan. Akhirnya tamu itu memberikan makanan. Lantas anak itu pergi dengan perasaan senang dan bahagia. Itulah kafarat atas dosa si tamu,” jelas Malaikat Jibril kepada Rasulullah. (Ahmad Rosyidi/nuon)

Doa orang sakit

Salah satu hak seorang muslim terhadap muslim lainnya adalah menjenguknya ketika sakit. Hal ini merupakan perkara yang mulya yang telah diajarkan oleh agama. Disamping itu pula dianjurkan memberikan nasehat-nasehat yang mengandung harapan serta berdo'a untuk kesembuhan orang yang sakit.

Selain itu, ada perkara yang juga disunnahkan apabila menjenguk orang yang sakit yaitu meminta do'a dari orang yang sakit. Sebab do'a orang yang diberikan sakit oleh Allah diibaratkan seperti do'anya malaikat. Imam al-Nawawi rahimahullah didalam kitabnya al-Majmu' menjelaskan

يستحب طلب الدعاء من المريض لحديث عمر رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " إذَا دَخَلْت عَلَى مَرِيضٍ فَمُرْهُ فَلْيَدْعُ لَك فَإِنَّ دُعَاءَهُ كَدُعَاءِ الْمَلَائِكَةِ " رواه ابن ماجه بإسناد صحيح
Disunnahkan meminta do'a dari orang yang sakit, berdasarkan hadits Sayyidina 'Umar radliyallahu 'anh, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Apabila engkau datang mengunjungi orang yang sakit, maka mintalah do'a untuk dirimu, sebab do'anya orang yang sakit itu seperti do'anya malaikat", Imam Ibnu Majah meriwayatkannya dengan sanad yang shahih.

Apabila do'anya orang sakit seperti do'a malaikat maka itu berarti do'anya orang yang sakit adalah do'a yang dikabulkan oleh Allah. Meskipun demikian, meminta do'a dari orang yang sakit perlu sekiranya melihat kondisi yang sangkutan.

Oleh AR

Ilmu ikhlas

  عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam telah bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.

“Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda.” Yang lain mengatakan “Seorang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi”.
Allah akan mengambil apa-apa yang kita anggap berharga untuk meguji keikhlasan kita. Saat Allah mengambil satu kebahagianmu tapi kita justru mengeluh, maka akan diambilah kebahagianmu yang lain. Lalu kita masih mengeluh, maka allah akan mengambil kebahagiaanmu yang lain lagi. Lalu kita berkata “Aku Ikhlas ya Allah…”
Namun, kenapa Allah masih mengambil kebahagian kita yang lain lagi?

Ingat Allah yang maha tahu segalanya, bukankah kalo sudah begini hanya tinggal mawas diri ? Jelas mungkin kita ikhlas hanya di lisan saja, Sudahkah kita ikhlas dihati???? Semuanya akan menemukan titik keseimbangannya saat segala yang berharga hilang semua sampai pada akhirnya kita merasa tak ada yang lebih berharga lagi (Kecuali Allah) sehingga muncul ucapan yang rela untuk berkata “Ya sudah, berikanlah saja dan Lupakan…”
Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ
Ya, Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu.

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari ridho Allah. (HR Nasa-i & Imam Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib,)

Oleh : Ust. Ahmad Badri - Balikpapan

About me

Yeah, it's about me Read More..